Tentang Saya

Foto saya
hamba Allah yang belajar berbagi ilmu lewat tulisan, dengan terus belajar membekali diri dengan ilmu agar hidup lebih bermanfaat.

Senin, 12 Desember 2016

Tulisan ini ditulis oleh Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz, saya masukkan ke blog lamaku ummiaia.blogspot.com pada tanggal 6 juni 2015 pukul 18.26, hmm senyum-senyum sendiri lihat, betapa rapih dan lengkapnya arsipku kala itu, sampai jamnya pun ditulis hehe, padahal sudah terposting di blog tapi tetap save di folder blog. Tapi inilah dibilang hikmah saya mengarsipkannya, jadi ketika blog ga bias kebuka, file-file bias dimasukkan ke blog baru.

Bagi saya tulisan ini sangat bermanfaat dan memotivasiku kala itu, sehingga saya memasukkan ke blog. Lagi semangatnya buat blog tapi kok ya susah ya menshare tulisan, banyakan tersave di note laptop saja. Akhirnya demi menjaga blog tidak kosong, kumasukkanlah tulisan ini sebagai self remind. Berharap yang baca juga mendapat manfaat….. aamiin.

MOTIVASI AGAR BISA ISTIQOMAH DENGAN AL QUR'AN 
oleh : Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz

Sahabat yang dirahmati Allah,
Betapa nikmatnya manakala kita telah mampu istiqomah berinteraksi dengan Al Qu'ran. Nikmat membaca kalam - kalam NYA , nikmatnya merasakan seakan-akan kita berbicara dengan NYA, nikmat merasakan Al Qur'an mampu memberikan ruh dan petunjuk dalam tiap langkah kehidupan kita , nikmatnya Al Qur'an menjadi petunjuk pembeda antara yang haq dan yang batil, serta nikmat syafaat kelak bagi sesiapa yang ikhlas senantiasa membaca & bersahabat dengan AL Qur'an. (Insya Allah)

Untuk memulai langkah mencintai Al Qur'an berikut upaya-upaya jiwa agar mampu senantiasa bersahabat dengan nya :

       I.            MENDAMBAKAN AL QUR'AN SEBAGAI KENIKMATAN SEPERTI KITA MENDAMBAKAN HARTA

“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)

Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman, ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya - misalnya sangat baik interaksinya dengan Al-Qur’an, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah - maka kita pun sangat mendambakannya.
Itulah ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.

Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:

1. Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al-Qur’an hati kita adem ayem saja?
Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al-Qur’an). 

Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an dan hal ukhrawi. Telah menjadi tabiat manusia untuk berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.

2. Rasulullah Saw menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al-Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an
“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).

Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat akrab Al-Qur’an? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (QS Al-Baqarah [2]:255)

3. Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Apakah kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam Al-Qur’an? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al-Qur’an? Sedihkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al-Qur’an? Jika belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuran.
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30)

4. Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an? Jika tentang Al-Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah Swt dan segera upayakan untuk kembali kepada Al-Qur’an agar tidak dikecam Allah Swt:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”

5. Sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)

Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al-Qur’annya?

è Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah Swt kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik?
è Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya hafalan, lemah dan terbatas?
Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan keterbatasannya dengan Al-Qur’an.

Isi Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat.

Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an itu sendiri, Insya Allah

    II.            MERAYU ( MEMOTIVASI) DIRI/JIWA SENDIRI AGAR MENCINTAI AL QUR'AN

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)

Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?

Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap.

 Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.

Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:

1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.

2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.

3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.

4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.

5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.

6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.

7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.


Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit.
Tanyakanlah pada diri kita:

1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang?

 Mengapa kamu begitu berat dan enggan untuk hidup dengan wahyu Allah Swt?
Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?

2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.

3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?

4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.

5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.

6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?

Ungkapan di atas adalah perenungan bagi setiap jiwa, agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna...


“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…”
(QS Al-Baqarah [2]: 219-220)

Semoga Allah memberi kemampuan bagi kita semua ...Aamiin yaa Robbal Alamiin,,

#IndonesiaMengaji

Sabtu, 03 Desember 2016

Tak kenal maka tak sayang



AL QUR’AN
Tak kenal maka tak sayang
 | 2.12.2016 |

2.12.2016

Jum’at 212, merupakan hari pembuktian bagi kaum muslim bahwa kita kuat jika bersatu. Dan lihatlah, kita bersatu Karena apa? Karena ada seorang kaum kafir yang menghina Al Qur’an, kitab suci kita, yang berisi perkataan Allah azza wa jalla.
Media social, tv, radio, media cetak, semua membahas tentang hari itu. Betapa tidak,  mungkin hari itulah shalat jum’at terbesar di Indonesia, jutaan muslim kumpul dengan niat yang sama. masya Allah. Mereka ikut aksi bukan karena bayaran seperti yang dituduhkan mereka diluar sana, namun panggilan hati untuk membela agama, kitab dan menjaga NKRI.
Aksi bela ISLAM, bukan saja ikhwa yang mengambil peran, namun muslimah pun turun mengambil perannya dalam mempersiapkan makanan. Posko-posko dibuat dan para muslimah dengan gesit bekerjasama mempacking makanan tersebut dengan baik, semua ingin mengambil bagian.
Dan hari itu, jum’at 212, disaat Aksi bela ISLAM (Al Qur’an) dilaksanakan, ada beberapa mahasiswa yang sedang melaksanakan ujian munaqashah (ujian tutup), berjuang mempertahankan apa yang telah ditulisnya yang didasarkan pada hasil penelitiannya. Karena berada di Universitas berbasis Islam, yang memiliki visi-misi mengintegrasikan ilmu dibidangnya dengan Al Qur’an dan hadits. Maka dalam isi skripsi terdapat ayat-ayat Al Qur’an dan hadits.
Dan, mulailah para penguji mengajukan pertanyaan seputar isi skripsi, dari metode, hasil sampai kesimpulan. Dapat terjawab. Tiba lah di pertanyaan seorang penguji, yakni “coba bacakan ayat Al Qur’an yang anda kutip kedalam skripsi ini.”
Dan, setelah mengaji, penguji berkata: “maaf saya tunda nilai anda, Karena saya kecewa sekali mendengar cara bacaan yang demikian. Saya akan beri nilai jika kamu sudah dapat membaca ayat tersebut dengan benar.”
Mahasiswa sangat terkejut, mungkin dia tidak menyangka, nahwa nilainya tertunda hanya karena bacaannya kurang tepat, panjang pendeknya, dan sebagainya. Karena mungkin, yang dipersiapkan mahasiswa adalah ilmu di bidangnya beserta teori-teori yang mendukung penelitiannya, namun tidak memikirkan tentang baca Al Qur’an yang sebenarnya sangat penting.
Tertunduk sedih menyaksikan kejadian itu. Berkecamuk penyesalan juga, kenapa tidak mengambil bagian mengajarkan Al Qur’an, mengajarkan tentang pentingnya mahasiswa kenal, akrab dengan Al Qur’an. Karena mereka adalah generasi penerus bangsa ini.
Bukankah adalah fenomena terbesar kehancuran Islam adalah jauhnya ummat dengan Al Qur’an.
Sedih, di Jakarta dan kota-kota lainnya, ummat sedang berkumpul melakukan aksi bela Islam, bela ayat Al Qur’an yang dinistakan, Namun masih banyak generasi muda yang belum bisa membaca dengan baik Al Qur’an, apalagi memahami isi ayat-ayat Al Qur’an. Merinding, membayangkan bagaimana keadaan bangsa kita, agama kita jika para generasi muda buta baca Al Qur’an, akankah hati-hati mereka masih dipenuhi akan cinta pada Al Qur’an jika mereka tidak akrab, tidak dekat dengan Al Qur’an. Mahasiswa di universitas Islam saja begini ngajinya, bagaimana mahasiswa-mahasiwa diluar universitas berbasis Islam, mereka adalah calon-calon sarjana yang akan mengganti pemimpin-pemimpin saat ini. Keyakinan kuat akan masih banyak mahasiswa yang dekat dengan Al Qur’an, namun kejadian ini menjadi ukuran bagi kita untuk tidak lengah dalam mengisi hati-hati generasi muda dengan Al Qur’an. Mengambil bagian unutuk mengingatkan, memotivasi, mengajarkan mereka untuk mempelajari Al Qur’an. Agar mereka kenal, dan akan sayang, serta cinta pada kitabnya. Kita butuh generasi Qur’ani.
Ya Allah, lapangkanlah urusan kami agar kami dimudahkan untuk belajar dan mengajarkan Al Qur’an, meluangkan waktu untuk membacanya setiap hari, mentadabburinya, mengamalkannya disetiap langkah-langkah kami.
Tugas ummat masih banyak, tidak sampai hanya mencari nafkah, Tidak hanya membekali diri kita sendiri dengan ilmu, Tidak hanya sebatas membaguskan penampilan-penampilan kita dengan busana muslim yang syar’I. Namun, tugas kita juga nasehat menasehati dalam kebaikan. Karena rezeki itu pasti, kemuliaan lah yang dicari.  #noted.
#dibalikkisah
#owopku