Tentang Saya

Foto saya
hamba Allah yang belajar berbagi ilmu lewat tulisan, dengan terus belajar membekali diri dengan ilmu agar hidup lebih bermanfaat.

Selasa, 28 Februari 2017

30 days Challenge!!!




30 days Challenge!!!

Rame tantangan-tantangan di komunitas yang saya ikuti. Tantangan workout, nulis, coba resep baru dan lain-lain.

Tantangan, menutrut saya sangat penting, untuk membangun habit yang lebih baik.

Ada target-target yang harus kita penuhi dalam sehari. SERU & sangat menarik. Dari tantangan-tantangan itu pun kita mengetahui hal apa saja yang perlu kita benahi.

Selain tantangan challenge workout di grup Muslimah Swimming Club, tantangan yang saya juga keluarga selalu nanti adalah tantangan dari komunitas IIP (Institut Ibu Profesional). Tahapan belajar untuk menjadi ibu professional kali ini telah sampai pada materi Bunda Sayang.

Tantangan pertama telah dilalui, namun masih butuh latih lagi, tingkatkan, latih teruus. Maka pada tantangan kali ini Tim kami melakukan tantangan yang berbeda-beda.

Tantangan Ibu : Melatih komunikasi komprod lebih baik lagi, di ranah domestic, maupun ranah
publik To anybody, anytime, anywhere.
Memeluk anak-anak sebelum pergi & setelah pulang dari sekolah & doakan (aktivitas Pagi)
Mendongengkan kisah-kisah Islam. (aktivitas malam)

Tantangan Ayah: Membuat sarapan anak-anak, (aktivitas pagi)
Mendengar cerita mereka (aktivitas malam)
Tantangan Kakak Ai : Merapikan barang-barang ketempatnya semula (My Room My Project)
Saya Pejuang Subuh!!! Manage My Time.

Tantangan Kakak ii ; Meletakkan barang-barang yang sudah dipakai pada tempatnya khususnya setelah pulang sekolah)

 Saya Pejuang Subuh!!! Mandi setelah Bangun. (Where’s My ii?)

Tantangan AL : Mengembalikan mainan ke tempatnya setelah main.
Menutup pintu pelan-pelan & mengetuk sebelum masuk ke ruangan/rumah

Tantangan ini telah kami sepakati pekan lalu, namun baru kami laporkan perkembangannya.

Selama sepekan ini, masih banyak yang missed dari semua tim. Hal ini disebabkan beberapa factor, seperti saat ada kesibukan kami yang mendadak, akhirnya tantangan tersebut tidak dilaksanakan. Atau anak-anak kelelahan sehingga waktu tidur mereka cepat. Aktivitas pagi sudah mulai ada perubahan.

Jadi Pejuang Subuh yuuuk!!! Adalah program yang pernah kami lakukan, bangun sebelum subuh, mandi, shalat berjamaah dimesjid. Dan kerumah nenek, menemani beliau sarapan.

Namun, aktivitas tersebut berhenti, karena untuk sementara waktu, ada saudara yang menemani nenek dirumahnya. Jadi, kami pun jarang lagi melakukan aktivitas seru tersebut.

Alasan inilah yang membuat kami menyepakati untuk melakukan kebiasaan yang sangat baik itu, dengan mengganti tema “Saya Pejuang Subuh!”

Mengembalikan barang-barang, duuuh susahnya ini. Kok semakin gede, semakin berantakan yah. Saya mulai melirik kebiasaan saya & suami. Yah, dulu memang sampai rumah, buka jilbab,  disimpan disandaran kursi, langsung kerja di dapur, sekarang sudah mulai meletakkan dulu barang-barang, mengganti pakaian dulu kemudian kerja di ranah domestic lagi.

Namun, untuk sepatu, kaos kaki, saya dan suami selalu meletakkan ditempatnya. Pakaian digantung, tapi anak-anak kok melakukan demikian. Kamar merupakan tempat meletakkan barang-barang :D.

Adek Al, beda lagi. Awal disampaikan tantangan buat dia, dia lakukan. Rapi. Besok mulai lagi, dengan alasan, mau main dikamar, dingin, mau tidur dengan dino, dll. Alhamdulillah, Al anaknya nurut, jika disampaikan dengan baik, dengan bahsa bermain, al mudah melakukannya, disini seperti tantangan ummi yang perlu dilatih dan lebih kreatif dalam menyampaikan pesan cinta.

Menutup pintu, duuuh, pengen rasanya pintu dipasangkan alat buat menutup dengan lambat, kebiasaan adek al jadi pindah ke kakak-kakaknya. Hmmm. Bukan karena marah, ntahlah pintu dibuka lebar dan didorong, paangg! Inilah alasan tantangan buat adek Al adalah buka tutup pintu dengan santun.

Alasan kami membuat tantangan ada 2 diawal pekan ini adalah karena beberapa tantangan telah kami buat dan terapkan dulu, anak-anak telah merasakan juga manfaatnya, jadi insyaAllah akan mudah. Dulu kebiasaan itu telah kami lakukan 30 hari namun berhenti lanjut dan berhenti lagi. Mungkin belum menjadi deep habit. Oleh karena itu kami mulai tantangan ini dengan menuliskan 30days Challenge for you…. (masing-masing menuliskan & menempelkan agar bias saling mengingatkan).

#day1
#level2
#melatihkemandirian
#BundSayIIP


Sabtu, 18 Februari 2017

Semua Adalah Ujian Bagimu

Semua adalah Ujian Bagimu

“Latih, sabar, latih lagi dan latih terus dalam kesabaran.”

Mengikuti Kelas Bunda sayang, merupakan hal yang membuat hari-hari semakin berwarna, lebih dekat dengan Allah, penuh tantangan, dan tentunya membuat diri kita semakin baik, khususnya dalam bertutur kata, bersikap dengan orang-orang yang ada disekitar kita, walau...Masih banyak aral melintang.
Latih, sabar, latih lagi dan latih terus dalam kesabaran. Latih dalam hal mengolah kata-kata, memahami bahasa tubuh, menyampaikan bahasa cinta, dan lain-lain merupakan ujian tersendiri bagi saya pribadi. Baik itu ke diri sendiri, pasangan & anak2. Yang paling menarik adalah komuniukasi dengan anak-anak yang memiliki keunikan yang berbeda.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan disisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At Taghabun: 15)


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah
dan katakanlah perkataan yang benar, (QS. Al-Ahzab: 70).

Berpegang pada perkataan Allah, yang mengingatkan manusia untuk bersabar terhadap anak-anak, karena sungguh itu hanya sebagai ujian bagi kita, dan betapa Allah menegaskan betapa pentingnya berkata benar, maka saya menyemangati diri untuk belajar lebih baik, karena Allah-pun memerintahkan hal tersebut, semangat berubah..  

Tantangan 10 Hari, bagi saya merupakan proses menempa kita untuk konsisten, komitmen mempraktekkan ilmu yang telah didapat. Menuliskannya, agar dapat menjadi evaluasi diri kita kedepannya, sebagai pengingat juga, Kok dulu bisa, sekarang nggak!! Hehehe

Materi & cemilan rabu yang diberikan, dikunyah pelan-pelan, berusaha memaknai apa maksud, bagaimana mempraktekkannya dilingkungan saya. Kadang mengharu biru juga dengan cemilan rabu, nangis iya, ya banyak mohon ampun sama Allah, sungguh Dia-lah yang membolak balikkan hati setiap insan. Beranjak dari situ, mulailah mengatur strategi, mulai dari yang urgent dulu untuk dibenahi, dan yang penting untuk diterapkan. Segera! Bersegeralah dalam kebaikan, Sebelum terlambat!

Dan, masya Allah. Menarik sekali dijalankan.

Beberapa perubahan sangat terlihat jelas, namun belum berpuas diri, karena hal ini masih perlu uji coba diberbagai kondisi, banyak berdoa agar diberi kekuatan menjalankannya.
Serius sekali ya.! Yuppp, karena ini memang masalah serius yang dapat berdampak pada keturunan kita jika kita abaikan.

Perubahan yang paling berarti adalah saya mulai meyampaikan pesan dengan KISS. Metode yang paling jitu niih. Energi gak terkuras, daaaan pesan sampai tentunya. 12 gaya populer
Sudah ga populer lagi deh, konsep kata-kata pun selalu dilakukan. (oia, psssst...KISS = Keep Information Short & Simple). Walau beberapa hari yang lalu, saya kecewaa sekali, anak-anak mulai memberi ujian bagi saya, pulang dari beraktivitas, rumah kamar berantakan, bahagia sekali mereka, karena saya datangpun disambut waalaykumsalam ummi, senyum bahagia, saya pun senang, ternyata oh ternyata kreatif mereka sudah memancing amarah. Bener-bener butuh perjuangan yang luar biasa untuk melatih komprod, jatuh bangun bertahan, tapi ini belum apa-apa, saya yakin akan banyak ujian-ujian untuk menguatkan saya lebih baik lagi. Karena komprod bukan hanya sampai 10 hari, bukan sampai 1 tahun, namun seterusnya selagi  amanah sebagai manusia masih diberi. 
Maka bersabarlah, karena semua adalah ujian  bagimu.

Baiti Jannati, 22 Jumadil Awal 1438 H

_h.h.g_

Selasa, 14 Februari 2017

My Yellow Afternoon

My Yellow Afternoon

Yellow is fresh.

Fresh seperti suasana saat ini. Walau sudah menjelang maghrib, namun badan tetap segar & fit.
Menu kuning-kuning ini adalah cemilan sore favoriteku. Manis dan kecut rasanya, namun perbedaan rasa itu membuat keseimbangan rasa yang menyehatkan. #apasih
Memulai untuk hidup sehat, agar menjadi teladan bagi anak-anak. Biasanya kan, anak-anak diberi wejangan, kalau mau sehat ya makanan pun harus sehat nak. Namun, kadang kami, yang makan-makanan kurang sehat.
Maka mulai lagi mendoktrin diri sendiri untuk tertib dengan aturan yang dibuat. Mulai dari diri dulu laah...Coz, if you can change your self then you can change anything.

“For THINGS to CHANGE,
I must CHANGE FIRST”

Prinsip yang adil ya begitu, lakukan perubahan dari diri sendiri dulu, yang kecil-kecil Dan sederhana, jadikan kebiasaan yang baik.
Setelah melatih diri untuk hidup sehat, melihat umminya sudah yang ngemil buah, sayur, mereka mulai bertanya, mulai icip-icip walau masih milih-milih yang disuka. Tapi, melihat sudah ada respon baik, saya pun mulai ajak diskusi tentang rasanya kalau sedang sakit.
Semua mulai bercerita kisah sedihnya ketika sakit. Gak enak kan nak. Makanya, kita harus pahami makan itu untuk apa?
Makan untuk kuat ummi
Makan untuk besar ummi (duuh semoga maksudnya besar tuh tinggi ga melebar hehe)
Biar kenyang ummi.
Iya, tapi yang butuh makan siapa?
Saya. (Semua nyahut).
Iya untuk kita, tepatnya untuk tubuh kita.
Nah, kita harus ngerti dong tubuh kita butuh apa. Biar tubuh kita senang.
Coba, gimana perasaan kakak kalau lagi pengen es krim tapi ummi kasih kue. Lagi butuh minum disuruh makan. Gak enak kan.
Iya lah pasti gak enak ummi.
Nah, begitu juga tubuh dan sel-sel tubuh kita nak. Mereka ingin makanan yang sehat buat bantu kita beraktivitas, biar gak mudah sakit. Tapi, untuk tulang kuat, mata sehat, kulit seger dll kan butuh makanan yang banyak mengandung vitamin A, B, C, D, E, dll. Nah kalau kita makan mie rebus, sosis, nugget, makanan cepat saji, makanan kalengan, gimana tubuh kita bisa sehat sayang.
Minumnya juga, minum bersoda, minuman botol/kaleng yang instan, gimana perasaan tubuh?
Sedih ummi…
Tepat sayang, tubuh sehat yang buat kita bisa melakukan kegiatan kita dengan enak. Everybody Happy right?? Gak ada yang terzolimi hehe. Sambil menikmati the yellows.

Tapi kita kenyang kah ummi kalau hanya makan buah?
Yuupp, pasti kenyang InsyaAllah, rasanya biasa saja, seperti ketika puasa, gak makan apa-apa tapi tidak kelaparan sekali kan.

Ummi, tapi temanku bilang, gak kenyang kalau belum makan nasi.
Hehehe, iya sayang, bukan cuma temanmu, teman ummi juga bilang begitu. Susah kalau tidak makan nasi.
Itu hanya ada di pikirkan kita nak, dan kebiasaan. Makanya kita biasakan makan yang sehat, tepiskan kata-kata yang demikian. Rasulullah saja makan hanya kurma saja sehat selalu, dan mampu melaksanakan ibadah dengan baik. Justru kalau perut kenyang, kita jadi malas ibadah, ngantuk terus, dll. Makanya sayang, jangan suka ikut-ikut orang yang belum jelas sukses hidupnya. Ikuti orang-orang yang telah dijamin Allah, hidupnya bahagia dunia akhirat. Seperti rasulullah, para sahabat dll.

Semua senyum2, alhamdulillah semoga bincang-bincang sore ini bermanfaat dan dipahami mereka.

Karena mereka mulai tertarik, maka program hidup sehat kami dimulai mengganti isi kulkas dengan perbanyak buah dan sayur, cemilan kue coklat, sirup dll dikurangi, biar anak-anak pun pemandangannya yang sehat-sehat. Gak terlalu tergiur dengan makanan manis-manis yang menyesatkan, bukan menyehatkan.

So, it’s my Yellow Afternoon. Tomorrow we will face the green morning or rainbow breakfast.

Be Happy! Be Healthy!


#familyforum
#komprod

Minggu, 12 Februari 2017

Berkata Baik Dengan KOMPROD


KOMPROD
_Komunikasi Produktif_

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”
(Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Masya Allah, pesan diatas begitu sarat makna. Betapa mulianya orang-orang yang dapat menjaga mulutnya, bersabar akan keinginan untuk mengomentari setiap kejadian. Dalam Islam, mengajarkan kita untuk selalu  berkata lemah lembut, bahkan dalam Al Quran dikisahkan tentang Nabi Musa dan Harun yang akan menasehati Firaun yang bengis dan kejam, Allah berpesan untuk berkata lemah lembut, semoga dia sadar. 

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”
Sungguh Allah telah memperingatkan kita dalam surah Al Ahzab 70-71, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Janji Allah adalah benar. Maka tidak ada lagi keraguan untuk tidak berkata benar. Kepada siapapun. #belajar&berlatih.
Dari pemaparan singkat diatas dapat diambil pelajaran, bahwa ketika akan berbicara, maka berpikirlah dulu, apa perkataan ini bermanfaat atau tidak. Karena, Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban (Al Israa: 36). 

Bukan hanya lisan saja, namun tulisan pun akan dimintai pertanggung jawaban, maka hati-hatilah dengan tulisanmu. Noted bagi saya, peringatan bagi diri sendiri. Hal ini pun sengaja saya tuliskan agar menjadi cambuk buat diri, pengingat agar menjaga lisan, tulisan, dan berlatih terus untuk berkata benar, dengan lemah lembut.

Tantangan bagi saya. Namun Bismillah, semoga dengan langkah awal ini Allah akan memperbaiki amalan yang lainnya dan jalan dihapuskannya dosa.
Perkataan benar yang akan menjadi tantanganku saat ini adalah bagaimana melatih untuk dapat komunikasi produktif. Terhadap suami, anak-anak, bahkan kepada diri sendiri.

Komunikasi dengan diri sendiri

Dimulai dengan diri sendiri, berlatih untuk mengubah kata-kata negatif menjadi positif. Hal ini sangat berpengaruh besar dalam diri, seperti hypnotherapy tapi ini yang sederhana karena saya pun belajar ilmu ini. Selalu menanamkan dalam diri untuk berpikir positif, karena sesungguhnya Allah bersama prasangka hambaNya. Maka berupaya untuk menanamkan kalua saya mampu berkata dengan baik, mengganti kosa kata yang dapat menyemangati hari-hari dalam hidup bersama orang yang dicintai.
Salah satu yang hal yang saya telah peraktekkan adalah mengubah kata masalah menjadi tantangan. Hal ini diperoleh dari Bu Septi dalam buku Bunda Sayang, seri ibu Profesional.
Rasakan, ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Penggunaan kosa kata yang baik akan mencerminkan diri kita, dan akan membawa dampak yang baik kadalam otak, pikiran kita. Yup, berpikir sebelum berbicara seperti pesan imam Syafi’I rahimahullah.   

Komunikasi terhadap pasangan 

Komunikasi terhadap pasangan juga perlu diperhatikan. Dalam berkomunikasi terhadap pasangan, saya berupaya menempatkan diri pada posisi saya sebagai istri yang harus tunduk dan patuh terhadap suami. Suami adalah pemimpin jadi sebaiknya berbicara dengan suami tidak seperti pemimpin, karena kita bukan pemimpin suami hehehe.
Dan perlu pemahaman yang tinggi akan hal ini. Kita dibesarkan di lingkungan berbeda dengan orangtua yang beda dalam mendidik, beda pendidikan dan sebagainya. Jadi beda pendapat dengan suami, beda acara mendidik anak dan sebagainya, ya itu tidak mengapa. Bukan masalah besar, intinya komunikasi. Namun gunakan komunikasi yang baik. Karena komunikasi dilakukan untuk membagikan apa yang kita tahu, sudut pandangku, cara berpikirku agar suami mengerti dan begitu juga sebaliknya. Permasalahan akan datang jika kita memaksa untuk suami mengikuti apa yang kita mau, begitu pula sebaiknya.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi
Komunikasi antara dua orang dewasa berpijak pada Nalar. Sedangkan komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Jadi, ketika berkomunikasi dengan suami, maka gunakan nalar jangan emosi, kata-kata yang disampaikan berdasarkan kejadian nyata untuk problem solving.
Ketika emosi sedang naik, stop. Karena tidak aka nada lagi informasi yang dibagikan, hanya perkataan-perkataan yang saling berebut untuk diperdengarkan. Karena saat emosi naik, nalar berada dititik rendah. #noted.

Komunikasi dengan Anak

Ini tantangan yang lebih seru dan melatih emosi untuk tetap stabil.
Setiap anak memiliki keunikan tersendiri, cara menghadapinya pun berbeda-beda. Saya telah mengalami diketiga anak saya. Butuh ekstra latihan terus, belajar dan berlatih terus untuk dapat berkomunikasi dengan baik pada mereka.
Anak-anak kadang tidak memahami perkataan kita namun mereka tidak pernah salah dalam mengikuti cara kita berbicara.
Disinilah tantangan untuk merubah segala gaya berbicara kepada anak, agar lebih baik lagi. Karena gaya bicara anak biasanya mengikuti cara berbicara kedua orangtuanya (lingkungan sekitarnya). #peerbesar.
Dalam seminar bu Ely Risman telah dipaparkan 12 gaya bicara popular, yakni Memerintah, Menyalahkan, Meremehkan, Membandingkan, Memberi cap, Mengancam, Menasehati, Membohongi, Menghibur, Mengeritik, Menyindir, Menganalisa.
Malu, dulu kata-kata itu yang biasa terucap kepada anak-anak, Juga yang didengar dilingkungan keluarga. Sedih. Namun, belajar untuk memperbaiki diri karena dengan gaya bicara tersebut akan membentuk anak kurang pede, jiwanya kosong. Solusinya adalah berlatih untuk komunikasi produktif.
Salah satu yang saya terapkan dari buku bunda sayang adalah melatih diri untuk KISS, Keep Information Short & Simple. Menahan diri untuk tidak menasehati panjang x lebar, memuji secara khusus tidak secara umum saja, selalu tersenyum, dan belajar untuk mendengarkan.
Kisah menjalani tantangan-tantangan dalam menerapkan komunikasi produktif selama ini sungguh penuh cerita lucu karena belajar untuk keluar dari kebiasan, namun hasilnya masya Allah. Dan belum berhenti sampai disini, karena akan banyak lagi ujian yang perlu dihadapi hari ke hari. Semoga menjadi kebiasaan yang baik setelahnya, untuk selalu berkata baik. Karena, KATA adalah DOA.

I AM RESPONSIBLE FOR MY COMMUNICATION RESULT


Bahan Bacaan:

Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Elly Risman, Penghambat Komunikasi Dalam Keluarga, artikel, 2014
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014
Materi Kelas Bunda Sayang dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi
#OWOP
#belajarnulis