Tulisan ini ditulis oleh
Ust. Abdul Aziz Abdul
Rauf, Lc, Al-Hafidz,
saya masukkan ke blog lamaku ummiaia.blogspot.com
pada tanggal 6 juni 2015 pukul 18.26, hmm senyum-senyum sendiri lihat, betapa rapih
dan lengkapnya arsipku kala itu, sampai jamnya pun ditulis hehe, padahal sudah
terposting di blog tapi tetap save di folder blog. Tapi inilah dibilang hikmah
saya mengarsipkannya, jadi ketika blog ga bias kebuka, file-file bias dimasukkan
ke blog baru.
Bagi saya tulisan ini sangat bermanfaat dan memotivasiku
kala itu, sehingga saya memasukkan ke blog. Lagi semangatnya buat blog tapi kok
ya susah ya menshare tulisan, banyakan tersave di note laptop saja. Akhirnya
demi menjaga blog tidak kosong, kumasukkanlah tulisan ini sebagai self remind.
Berharap yang baca juga mendapat manfaat….. aamiin.
MOTIVASI
AGAR BISA ISTIQOMAH
DENGAN AL
QUR'AN
oleh : Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz
Sahabat yang dirahmati Allah,
Betapa nikmatnya manakala kita telah mampu istiqomah
berinteraksi dengan Al Qu'ran. Nikmat membaca kalam - kalam NYA , nikmatnya
merasakan seakan-akan kita berbicara dengan NYA, nikmat merasakan Al Qur'an
mampu memberikan ruh dan petunjuk dalam tiap langkah kehidupan kita , nikmatnya
Al Qur'an menjadi petunjuk pembeda antara yang haq dan yang batil, serta nikmat
syafaat kelak bagi sesiapa yang ikhlas senantiasa membaca & bersahabat
dengan AL Qur'an. (Insya Allah)
Untuk memulai langkah mencintai Al Qur'an berikut
upaya-upaya jiwa agar mampu senantiasa bersahabat dengan nya :
I.
MENDAMBAKAN AL QUR'AN SEBAGAI
KENIKMATAN SEPERTI KITA MENDAMBAKAN HARTA
“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang
yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan
siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan
Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)
Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun
mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi
percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan
kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman,
ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya -
misalnya sangat baik interaksinya dengan Al-Qur’an, hafalannya banyak, rajin
beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah - maka kita pun sangat
mendambakannya.
Itulah ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa
membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.
Berikut ini beberapa
perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:
1. Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara
kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait
dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al-Qur’an hati kita adem
ayem saja?
Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani
(perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al-Qur’an).
Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal
interaksi dengan Al-Qur’an dan hal ukhrawi. Telah menjadi tabiat manusia untuk
berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung
ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.
2. Rasulullah Saw menjanjikan bahwa setiap orang beriman
yang bersahabat akrab dengan Al-Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari
Al-Qur’an:
“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari
kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.”
(HR. Muslim).
Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita
menjadi sahabat akrab Al-Qur’an? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan
mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat
tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas
seizin Allah…” (QS Al-Baqarah [2]:255)
3. Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan
kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Apakah
kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam
Al-Qur’an? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat
Al-Qur’an? Sedihkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al-Qur’an? Jika
belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan
Al-Qur’an sebagai mahjuran.
“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah
menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30)
4. Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak
informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita
dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an? Jika tentang Al-Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah,
jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah Swt dan segera upayakan untuk kembali
kepada Al-Qur’an agar tidak dikecam Allah Swt:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang
tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
5. Sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa
yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya
pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi
ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)
Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua
untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al-Qur’annya?
è Bagaimana mungkin seorang anak
dapat mencintai Allah Swt kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik?
è Bagaimana mungkin dapat shalat
dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya
hafalan, lemah dan terbatas?
Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu
berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan
keterbatasannya dengan Al-Qur’an.
Isi
Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa
mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat.
Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan
Al-Qur’an hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an
itu sendiri, Insya Allah
II.
MERAYU ( MEMOTIVASI) DIRI/JIWA
SENDIRI AGAR MENCINTAI AL QUR'AN
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan
hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah
hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)
Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada
hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin
kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?
Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik
dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi
keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun
sangat tidak siap.
Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri
sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang
dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup
bersama Al-Qur’an.
Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi
dengan Al-Qur’an antara lain:
1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah
keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga
dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah
Al-Qur’an.
2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan
yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan
mujahadah.
3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita
pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar
minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.
4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar
fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap
para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar
Al-Qur’an.
5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat
malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian
banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah
membaca Al-Qur’an di dalam shalat.
6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan
Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan
prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan
dakwah.
7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan
akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah
tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar
untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam
di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an
dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan
generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.
Jangan pernah berhenti untuk merayu
diri agar segera bangkit.
Tanyakanlah pada diri kita:
1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku
cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan
Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang
membaca suratnya bahkan berulang-ulang?
Mengapa kamu begitu berat dan enggan untuk hidup
dengan wahyu Allah Swt?
Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa
beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma
sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?
2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat
gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt
akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an,
mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt?
Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah
kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak
membaca Al-Qur’an?
4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan
Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah
manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca
Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya,
jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak.
Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan
manfaatnya.
5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu
sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan
amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat
ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah
yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an
selalu menjauh dari dirimu.
6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti
kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan
sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu
masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi
yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan di atas adalah perenungan bagi setiap jiwa, agar
hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna...
“….Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…”
(QS Al-Baqarah [2]: 219-220)
Semoga Allah memberi kemampuan bagi kita semua ...Aamiin
yaa Robbal Alamiin,,
#IndonesiaMengaji

Tidak ada komentar:
Posting Komentar