Tentang Saya

Foto saya
hamba Allah yang belajar berbagi ilmu lewat tulisan, dengan terus belajar membekali diri dengan ilmu agar hidup lebih bermanfaat.

Minggu, 12 Februari 2017

Berkata Baik Dengan KOMPROD


KOMPROD
_Komunikasi Produktif_

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”
(Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Masya Allah, pesan diatas begitu sarat makna. Betapa mulianya orang-orang yang dapat menjaga mulutnya, bersabar akan keinginan untuk mengomentari setiap kejadian. Dalam Islam, mengajarkan kita untuk selalu  berkata lemah lembut, bahkan dalam Al Quran dikisahkan tentang Nabi Musa dan Harun yang akan menasehati Firaun yang bengis dan kejam, Allah berpesan untuk berkata lemah lembut, semoga dia sadar. 

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”
Sungguh Allah telah memperingatkan kita dalam surah Al Ahzab 70-71, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Janji Allah adalah benar. Maka tidak ada lagi keraguan untuk tidak berkata benar. Kepada siapapun. #belajar&berlatih.
Dari pemaparan singkat diatas dapat diambil pelajaran, bahwa ketika akan berbicara, maka berpikirlah dulu, apa perkataan ini bermanfaat atau tidak. Karena, Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban (Al Israa: 36). 

Bukan hanya lisan saja, namun tulisan pun akan dimintai pertanggung jawaban, maka hati-hatilah dengan tulisanmu. Noted bagi saya, peringatan bagi diri sendiri. Hal ini pun sengaja saya tuliskan agar menjadi cambuk buat diri, pengingat agar menjaga lisan, tulisan, dan berlatih terus untuk berkata benar, dengan lemah lembut.

Tantangan bagi saya. Namun Bismillah, semoga dengan langkah awal ini Allah akan memperbaiki amalan yang lainnya dan jalan dihapuskannya dosa.
Perkataan benar yang akan menjadi tantanganku saat ini adalah bagaimana melatih untuk dapat komunikasi produktif. Terhadap suami, anak-anak, bahkan kepada diri sendiri.

Komunikasi dengan diri sendiri

Dimulai dengan diri sendiri, berlatih untuk mengubah kata-kata negatif menjadi positif. Hal ini sangat berpengaruh besar dalam diri, seperti hypnotherapy tapi ini yang sederhana karena saya pun belajar ilmu ini. Selalu menanamkan dalam diri untuk berpikir positif, karena sesungguhnya Allah bersama prasangka hambaNya. Maka berupaya untuk menanamkan kalua saya mampu berkata dengan baik, mengganti kosa kata yang dapat menyemangati hari-hari dalam hidup bersama orang yang dicintai.
Salah satu yang hal yang saya telah peraktekkan adalah mengubah kata masalah menjadi tantangan. Hal ini diperoleh dari Bu Septi dalam buku Bunda Sayang, seri ibu Profesional.
Rasakan, ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Penggunaan kosa kata yang baik akan mencerminkan diri kita, dan akan membawa dampak yang baik kadalam otak, pikiran kita. Yup, berpikir sebelum berbicara seperti pesan imam Syafi’I rahimahullah.   

Komunikasi terhadap pasangan 

Komunikasi terhadap pasangan juga perlu diperhatikan. Dalam berkomunikasi terhadap pasangan, saya berupaya menempatkan diri pada posisi saya sebagai istri yang harus tunduk dan patuh terhadap suami. Suami adalah pemimpin jadi sebaiknya berbicara dengan suami tidak seperti pemimpin, karena kita bukan pemimpin suami hehehe.
Dan perlu pemahaman yang tinggi akan hal ini. Kita dibesarkan di lingkungan berbeda dengan orangtua yang beda dalam mendidik, beda pendidikan dan sebagainya. Jadi beda pendapat dengan suami, beda acara mendidik anak dan sebagainya, ya itu tidak mengapa. Bukan masalah besar, intinya komunikasi. Namun gunakan komunikasi yang baik. Karena komunikasi dilakukan untuk membagikan apa yang kita tahu, sudut pandangku, cara berpikirku agar suami mengerti dan begitu juga sebaliknya. Permasalahan akan datang jika kita memaksa untuk suami mengikuti apa yang kita mau, begitu pula sebaiknya.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi
Komunikasi antara dua orang dewasa berpijak pada Nalar. Sedangkan komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Jadi, ketika berkomunikasi dengan suami, maka gunakan nalar jangan emosi, kata-kata yang disampaikan berdasarkan kejadian nyata untuk problem solving.
Ketika emosi sedang naik, stop. Karena tidak aka nada lagi informasi yang dibagikan, hanya perkataan-perkataan yang saling berebut untuk diperdengarkan. Karena saat emosi naik, nalar berada dititik rendah. #noted.

Komunikasi dengan Anak

Ini tantangan yang lebih seru dan melatih emosi untuk tetap stabil.
Setiap anak memiliki keunikan tersendiri, cara menghadapinya pun berbeda-beda. Saya telah mengalami diketiga anak saya. Butuh ekstra latihan terus, belajar dan berlatih terus untuk dapat berkomunikasi dengan baik pada mereka.
Anak-anak kadang tidak memahami perkataan kita namun mereka tidak pernah salah dalam mengikuti cara kita berbicara.
Disinilah tantangan untuk merubah segala gaya berbicara kepada anak, agar lebih baik lagi. Karena gaya bicara anak biasanya mengikuti cara berbicara kedua orangtuanya (lingkungan sekitarnya). #peerbesar.
Dalam seminar bu Ely Risman telah dipaparkan 12 gaya bicara popular, yakni Memerintah, Menyalahkan, Meremehkan, Membandingkan, Memberi cap, Mengancam, Menasehati, Membohongi, Menghibur, Mengeritik, Menyindir, Menganalisa.
Malu, dulu kata-kata itu yang biasa terucap kepada anak-anak, Juga yang didengar dilingkungan keluarga. Sedih. Namun, belajar untuk memperbaiki diri karena dengan gaya bicara tersebut akan membentuk anak kurang pede, jiwanya kosong. Solusinya adalah berlatih untuk komunikasi produktif.
Salah satu yang saya terapkan dari buku bunda sayang adalah melatih diri untuk KISS, Keep Information Short & Simple. Menahan diri untuk tidak menasehati panjang x lebar, memuji secara khusus tidak secara umum saja, selalu tersenyum, dan belajar untuk mendengarkan.
Kisah menjalani tantangan-tantangan dalam menerapkan komunikasi produktif selama ini sungguh penuh cerita lucu karena belajar untuk keluar dari kebiasan, namun hasilnya masya Allah. Dan belum berhenti sampai disini, karena akan banyak lagi ujian yang perlu dihadapi hari ke hari. Semoga menjadi kebiasaan yang baik setelahnya, untuk selalu berkata baik. Karena, KATA adalah DOA.

I AM RESPONSIBLE FOR MY COMMUNICATION RESULT


Bahan Bacaan:

Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Elly Risman, Penghambat Komunikasi Dalam Keluarga, artikel, 2014
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014
Materi Kelas Bunda Sayang dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi
#OWOP
#belajarnulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar