KOMPROD
_Komunikasi Produktif_
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia
berkata baik atau hendaklah ia diam.”
(Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018;
Muslim, no.47)
Masya Allah, pesan diatas begitu sarat makna. Betapa mulianya
orang-orang yang dapat menjaga mulutnya, bersabar akan keinginan untuk
mengomentari setiap kejadian. Dalam Islam, mengajarkan kita untuk selalu berkata lemah lembut, bahkan dalam Al Quran
dikisahkan tentang Nabi Musa dan Harun yang akan menasehati Firaun yang bengis
dan kejam, Allah berpesan untuk berkata lemah lembut, semoga dia sadar.
Imam
An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa
Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara
maka hendaklah dia berpikir terlebih
dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan
diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka
ditahan (jangan bicara).”
Sungguh
Allah telah memperingatkan kita dalam surah Al Ahzab 70-71, “Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni
dosa-dosamu.
Janji
Allah adalah benar. Maka tidak ada lagi keraguan untuk tidak berkata benar.
Kepada siapapun. #belajar&berlatih.
Dari
pemaparan singkat diatas dapat diambil pelajaran, bahwa ketika akan berbicara,
maka berpikirlah dulu, apa perkataan ini bermanfaat atau tidak. Karena, Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai
pertanggungjawaban (Al Israa:
36).
Bukan hanya lisan saja, namun tulisan pun akan
dimintai pertanggung jawaban, maka hati-hatilah dengan tulisanmu. Noted bagi
saya, peringatan bagi diri sendiri. Hal ini pun sengaja saya tuliskan agar
menjadi cambuk buat diri, pengingat agar menjaga lisan, tulisan, dan berlatih
terus untuk berkata benar, dengan lemah lembut.
Tantangan
bagi saya. Namun Bismillah, semoga dengan langkah awal ini Allah akan memperbaiki
amalan yang lainnya dan jalan dihapuskannya dosa.
Perkataan
benar yang akan menjadi tantanganku saat ini adalah bagaimana melatih untuk
dapat komunikasi produktif. Terhadap suami, anak-anak, bahkan kepada diri
sendiri.
Komunikasi dengan diri sendiri
Dimulai
dengan diri sendiri, berlatih untuk mengubah kata-kata negatif menjadi positif.
Hal ini sangat berpengaruh besar dalam diri, seperti hypnotherapy tapi ini yang
sederhana karena saya pun belajar ilmu ini. Selalu menanamkan dalam diri untuk
berpikir positif, karena sesungguhnya Allah bersama prasangka hambaNya. Maka
berupaya untuk menanamkan kalua saya mampu berkata dengan baik, mengganti kosa
kata yang dapat menyemangati hari-hari dalam hidup bersama orang yang dicintai.
Salah
satu yang hal yang saya telah peraktekkan adalah mengubah kata masalah menjadi
tantangan. Hal ini diperoleh dari Bu Septi dalam buku Bunda Sayang, seri ibu
Profesional.
Rasakan,
ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk,
maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi
jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu
tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Penggunaan
kosa kata yang baik akan mencerminkan diri kita, dan akan membawa dampak yang
baik kadalam otak, pikiran kita. Yup, berpikir sebelum berbicara seperti pesan
imam Syafi’I rahimahullah.
Komunikasi terhadap pasangan
Komunikasi
terhadap pasangan juga perlu diperhatikan. Dalam berkomunikasi terhadap pasangan,
saya berupaya menempatkan diri pada posisi saya sebagai istri yang harus tunduk
dan patuh terhadap suami. Suami adalah pemimpin jadi sebaiknya berbicara dengan
suami tidak seperti pemimpin, karena kita bukan pemimpin suami hehehe.
Dan
perlu pemahaman yang tinggi akan hal ini. Kita dibesarkan di lingkungan berbeda
dengan orangtua yang beda dalam mendidik, beda pendidikan dan sebagainya. Jadi beda
pendapat dengan suami, beda acara mendidik anak dan sebagainya, ya itu tidak
mengapa. Bukan masalah besar, intinya komunikasi. Namun gunakan komunikasi yang
baik. Karena komunikasi dilakukan untuk membagikan apa yang kita tahu, sudut
pandangku, cara berpikirku agar suami mengerti dan begitu juga sebaliknya.
Permasalahan akan datang jika kita memaksa untuk suami mengikuti apa yang kita
mau, begitu pula sebaiknya.
Pada
diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil;
bila Nalar pendek - Emosi tinggi
Komunikasi
antara dua orang dewasa berpijak pada Nalar. Sedangkan komunikasi yang sarat
dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Jadi,
ketika berkomunikasi dengan suami, maka gunakan nalar jangan emosi, kata-kata
yang disampaikan berdasarkan kejadian nyata untuk problem solving.
Ketika
emosi sedang naik, stop. Karena tidak aka nada lagi informasi yang dibagikan,
hanya perkataan-perkataan yang saling berebut untuk diperdengarkan. Karena saat
emosi naik, nalar berada dititik rendah. #noted.
Komunikasi dengan Anak
Ini
tantangan yang lebih seru dan melatih emosi untuk tetap stabil.
Setiap
anak memiliki keunikan tersendiri, cara menghadapinya pun berbeda-beda. Saya
telah mengalami diketiga anak saya. Butuh ekstra latihan terus, belajar dan
berlatih terus untuk dapat berkomunikasi dengan baik pada mereka.
Anak-anak
kadang tidak memahami perkataan kita namun mereka tidak pernah salah dalam
mengikuti cara kita berbicara.
Disinilah
tantangan untuk merubah segala gaya berbicara kepada anak, agar lebih baik
lagi. Karena gaya bicara anak biasanya mengikuti cara berbicara kedua
orangtuanya (lingkungan sekitarnya). #peerbesar.
Dalam
seminar bu Ely Risman telah dipaparkan 12 gaya bicara popular, yakni Memerintah,
Menyalahkan, Meremehkan, Membandingkan, Memberi cap, Mengancam, Menasehati, Membohongi,
Menghibur, Mengeritik, Menyindir, Menganalisa.
Malu,
dulu kata-kata itu yang biasa terucap kepada anak-anak, Juga yang didengar
dilingkungan keluarga. Sedih. Namun, belajar untuk memperbaiki diri karena
dengan gaya bicara tersebut akan membentuk anak kurang pede, jiwanya kosong.
Solusinya adalah berlatih untuk komunikasi produktif.
Salah
satu yang saya terapkan dari buku bunda sayang adalah melatih diri untuk KISS,
Keep Information Short & Simple. Menahan diri untuk tidak menasehati
panjang x lebar, memuji secara khusus tidak secara umum saja, selalu tersenyum,
dan belajar untuk mendengarkan.
Kisah
menjalani tantangan-tantangan dalam menerapkan komunikasi produktif selama ini
sungguh penuh cerita lucu karena belajar untuk keluar dari kebiasan, namun
hasilnya masya Allah. Dan belum berhenti sampai disini, karena akan banyak lagi
ujian yang perlu dihadapi hari ke hari. Semoga menjadi kebiasaan yang baik
setelahnya, untuk selalu berkata baik. Karena, KATA adalah DOA.
I
AM RESPONSIBLE FOR MY COMMUNICATION RESULT
Bahan
Bacaan:
Dodik
mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Elly
Risman, Penghambat Komunikasi Dalam Keluarga, artikel, 2014
Institut
Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014
Materi
Kelas Bunda Sayang dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi
#OWOP
#belajarnulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar